SGTP : Penduduk Maibu itu Muslim, Bukan Mualaf

0
349

Gambar dibawah ini mungkin hasil screenshot dari HP mas Triantoro Pbg. Saya menerimanya via WA yang berwaktu pada 20.42 WIT. Tapi saya baru sempat membukanya sekitar pukul 1-an dini hari.

Begitu membuka dan melihatnya, penasaran saya timbul. Saya cari nama akun sebagaimana yang tersebut difoto itu, Askar Kauny. Ternyata sebuah fans page. Saya lihat opsi “tentang” tertulis “Yayasan Askar Kauny, berkhidmat dalam mencetak santri penghafal Al-Qur’an….”.

Kemudian saya klik link yang dibagikan fans page tersebut. Sesampai di website tujuan, yaitu kitabisa.com, tertulis disana yang membuat donasi juga atas nama Askar Kauny. Disini latar belakangnya agak detail daripada yang disebutkan di fanspage, yakni “Yayasan Askar Kauny (www.kauny.com), sebuah yayasan non-profit yang memiliki 11 pesantren tahfizhul Qur’an gratis untuk yatim dan dhuafa juga membantu saudara-saudara kita di seluruh pelosok tanah air yang membutuhkan Al-Qur’an.”

Karena ingin tahu lebih banyak, lalu saya jalan-jalan ke website Askar Kauny. Diprofil disebutkan bahwa Founder dan CEO-nya adalah Ust. Bobby Herwibowo. Beliau juga yang mengajarkan metode menghafal Al-Qur’an semudah tersenyum. Metode itu, sebagaimana tertulis di websitenya, diterapkan pada santri/santriwati yang berjumlah 150 di 5 tempat, yaitu di Harapan Indah Bekasi, di Cikarang, di Bojonggede, Cijulang dan Cibinong Bogor.

Mungkin ada yang bertanya: kenapa saya penasaran? Jelas penasaran. Judulnya saja tertulis “DESA MU’ALLAF….” Apa yang dimaksud dengan “DESA MU’ALLAF”? Dalam isi tulisan di website kitabisa.com disebutkan bahwa sebagian dari mereka adalah mu’allaf. Yang dimaksud dengan “sebagian” itu mayoritas atau minoritas?

Sepengetahuan saya, penduduk Maibu adalah muslim suku Kokoda. Mereka memeluk agama Islam sudah sejak abad ke-15 M. Ada yang bercerita pembawanya berasal dari Turki. Ada juga yang mengatakan dari Persia. Tapi ada juga yang berpendapat sejak masa kerajaan Tidore. Bahkan menurut Allah yarham Habib Mundzir Al-Musawa, pembawa Islam ke suku Kokoda berasal dari Yaman.

Terlepas dari silang pendapat di atas, saya kira menyebut Maibu dengan “DESA MU’ALLAF…” tidaklah benar. Bagaimana perasaan Anda bila sudah memeluk Islam sejak lahir lalu tiba-tiba disebut mu’allaf demi mendapatkan bantuan? Demi mendapatkan masjid atau Al-Qur’an?

Dan yang perlu diketahui, hingga saat ini belum ada listrik di Maibu. Sekolah Dasar (SD) yang notabene dibawah naungan Al-Ma’arif belum juga didirikan karena berbagai kendala. Kebetulan maghrib tadi, di Kurwato, saya bertemu dengan salah satu guru SD tersebut yang juga muslim suku Kokoda Maibu. Katanya sekolah sudah mulai masuk tapi berlangsung di depan rumah beliau. Semoga bapak kepala sekolah Kang Jay dapat segera membangun sekolahan untuk putra-putri Maibu. Amin…

Kembali ke Askar Kauny. Hingga tulisan ini selesai saya tulis, pertanyaan saya dikolom komentar fans page Askar Kauny belum juga ada balasan. Harapan saya bila bisa berkomunikasi, saya ingin agar Askar Kauny merubah judul yang telah ditulis itu dengan kata-kata yang tidak berlebihan. Janganlah niat baik itu justru malah bisa menyinggung atau membuat sakit hati. Dan berdasarkan pengamatan saya selama ini, setidaknya untuk saat ini, penduduk Maibu lebih membutuhkan pembimbing Islam yang mampu fokus, konsisten, dan intens daripada Al-Qur’an. Perlu diketahui juga, di Maibu sudah ada beberapa Al-Qur’an. Seperti dimana-mana di kebanyakan Indonesia, kelihatannya Al-Qur’an itu jarang dipegang.

#SantriGoesToPapua #ppmAswaja

LEAVE A REPLY