SGTP : Perjalanan di Pemukiman Usili

0
284

Lebih kurang jam 10 malam waktu Indonesia Timur, saya dan tiga orang teman tiba di Usili. Di samping Gereja, motor kami parkir. Satu dari kami mencoba menghubungi nomor telepon bapak Hamdani Toriga. Salah satu tokoh muslim suku Kokoda yang berada di sana. Tapi tak jadi.

“Adik, bapak Hamdani ada, kah? Rumahnya yang mana?” Tanya teman saya ketika mendapati anak-anak yang tengah duduk-duduk di satu bangunan yang kemudian saya ketahui sebagai bekas sekolahan.

Kami pun berjalan menuju rumah yang telah ditunjukkan anak-anak itu dengan hati-hati. Sinar rembulan pertengahan bulan cukup membantu mata kami untuk tetap melangkahkan kaki pada sebatang kayu. Sebatang kayu itulah yang merupakan satu-satunya jalan yang ada dalam pemukiman itu.

Di tengah perjalanan, sesosok orang menghadang kami. Lalu menyuruh kami untuk kembali ke bekas sekolahan tadi. Sesampai di bangunan itu tidak ada lagi anak-anak tadi. Entah kemana mereka. Pasti pulang. Karena hari semakin malam.

Waktu itulah kali pertama saya bertemu dengan bapak Hamdani Toriga. Tokoh muslim suku Kokoda yang tengah kesulitan untuk mewujudkan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) di pemukiman Usili. Bukan hanya TPA, musholla maupun masjid pun belum ada di sana.

Perlu diketahui, Usili adalah salah satu pemukiman suku Kokoda. Beda dengan suku Kokoda di Kurwato maupun di Maibo yang 100% pemeluk Islam, di Usili terdapat dua agama. Islam dan Nasrani. Meski demikian, perbedaan keyakinan tak membuat mereka lantas beda. Apalagi bermusuhan. Mereka tetap bersaudara. Kerukunan tetap terjaga dan terbina.

“Waktu tempat ibadah itu (gereja) dibangun, kami semua (muslim) turun. Saudara-saudara nasrani sering bicara pada saya; kapan tempat ibadah muslim dibangun? Mereka siap ikut turun,” jelas bapak Hamdani.

Omongan itu bukan semata retorika. Sore tadi waktu saya dan beberapa teman ke sana lagi, seorang warga nasrani siap memberikan beberapa kayu besi yang insya Allah besok minggu akan digunakan untuk penanaman tiang pancang sebagai bakal bangunan musholla. Dan mereka pun menyatakan kesiapan untuk turun bersama.

Selain kembali bertemu dengan bapak Hamdani, sore tadi saya juga bertemu dengan beberapa warga nasrani. Silaturahmi saya kali ini ternyata didesain oleh bapak Hamdani agar saya dan teman-teman mensosialisasikan obrolan malam sebelumnya mengenai rencana pendirian TPA.

Diluar dugaan saya, warga malah meminta agar kalau pagi hari bangunan TPA nantinya dipergunakan untuk sekolah. Maklum, di Usili yang sekolah hanya 3 anak sekarang. Dulu sekolah semua karena di situ pernah ada sekolah, kelas 1 sampai 3. Tapi bubar karena gurunya pindah tugas di daerah lain. Sang guru sebenarnya memang tidak ditugaskan disitu. Beliau mengajar disitu murni panggilan hati karena melihat banyak anak-anak yang tidak sekolah.

Siapa yang bisa menolak permintaan seperti itu. Tanpa pikir panjang, saya pun mengiyakan. Bahkan saya memotivasi mereka untuk membujuk, mendorong, dan kalau perlu memaksa anak-anak mereka untuk terus masuk sekolah bila bangunan itu sudah jadi. Lebih dari itu, saya mengiming-imingi mereka yang muslim kalau anak-anak mereka pintar, saya siap membawanya ke Jawa untuk sekolah sampai perguruan tinggi sambil belajar di pesantren. Semuanya gratis.

Yang perlu diketahui lagi, inisiator pembangunan TPA itu bukanlah tokoh agama Islam setempat. Bukan pula ormas Islam setempat. Melainkan sebuah komunitas vespa. Dengan berbekal beberapa kayu dari salah satu warga nasrani suku Kokoda Usili ditambah beberapa lagi dari bapak Muhtadi yang merupakan anggota TNI AD setempat, BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM besok minggu akan dimulai penanaman tiang pancang. Setelah penanaman tiyang pancang, diharapkan akan ada bantuan-bantuan untuk melanjutkan pembangunan.

Mari bersama-sama kita langitkan do’a untuk mereka.

Duh, Usili… ketika ibu kota dengan orang-orang pintarnya gegap gempita memperuncing hal-hal yang tak sama, kenapa bisa kau dengan kebutaan pendidikanmu justru tak terusik dengan hal-hal yang berbeda? Apa karena buta kau tak bisa membeda? Apa karena pendidikan memang bertujuan agar manusia saling mencela?

Duh, Usili… ketika pembangunan ramai dimana-mana, kenapa jalanmu masih sebatang kayu saja? Apakah listrik juga tak kau mengerti kapan mengalir ke sana?

Baiklah, Usili… ku buang kau ke dunia maya, siapa tahu ada pejabat yang membaca. Dan berdo’a saja ada yang tergerak hatinya.

#SantriGoesToPapua #ppmAswaja

LEAVE A REPLY