Wisata Religi di Semarang

0
1214

Semarang adalah ibukota Provinsi Jawa Tengah, Indonesia sekaligus kota metropolitan terbesar kelima di Indonesia sesudah Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Medan.[2][3] Sebagai salah satu kota paling berkembang di Pulau Jawa, Kota Semarang mempunyai jumlah penduduk yang hampir mencapai 2 juta jiwa dan siang hari bisa mencapai 2,5 juta jiwa. Bahkan, Area Metropolitan Kedungsapur (Kendal, Demak, Ungaran Kabupaten Semarang, Kota Salatiga, dan Purwodadi Kabupaten Grobogan) dengan penduduk sekitar 6 juta jiwa, merupakan Wilayah Metropolis terpadat keempat, setelah Jabodetabek (Jakarta).

Semarang juga merupakan satu kota yang sarat dengan akulturasi berbagai budaya yang begitu kental. Dengan kerukunan antar umat agamanya yang tak perlu diragukan lagi, tidak salah jika kota ini menghadirkan berbagai destinasi wisata dengan latar belakang tempat ibadah.

Wisata Religi Semarang

Masjid Agung

Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) yang terletak di Jalan Gajah Raya Semarang, Jawa Tengah Masjid Agung Jawa Tengah Semarang ini dibangun pada hari Jumat, 6 September 2002 yang ditandai dengan pemasangan tiang pancang perdana yang dilakukan Menteri Agama Ri, Prof. Dr. H. Said Agil Husen al-Munawar, KH. MA Sahal Mahfudz dan Gubernur Jawa Tengah, H. Mardiyanto, akhirnya Masjid Agung Jawa Tengah Ini diresmikan oleh Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 14 November 2006 .
Di kompleks Masjid Agung Jawa Tengah Semarang ini terdapat Museum Perkembangan Islam Jawa Tengah di Tower Asmaul Husna Lantai 2 dan 3, Hotel Graha Agung di sisi Utara dan resto yang memiliki view terbaik di Kota Semarang ini di Tower Asmaul Husna Lantai 18.
MAJT  dijunjungi bukan hanya untuk beribadah saja, melainkan untuk kegiatan wisata juga. Masjid Agung Jawa Tengah yang memiliki luas lebih dari 7,500 meter persegi ini mampu menampung sekitar 16,000 jamaah. Selain bangunan utama masjid, di Masjid Agung Jawa Tengah juga terdapat berbagai fasilitas lain seperti ruang akad nikah, auditorium, perpustakaan, penginapan, museum budaya Islam, kafe, toko cenderamata, kereta kelinci, tempat bermain anak-anak, dan lain-lain.

Masjid Kauman

Masjid ini dibangun tahun 1170 Hijriah atau 1749M. dan terletak di Jalan Alun-Alun Barat No 17 Kampung Kauman. atau samping komplek Pasar Johar Semarang. Dulu masjid ini dibangun oleh Kanjeng Tuan Nicoolass Hartingh, Gubernur serta Direktur Tanah Jawa pada masa Kanjeng Kyai Adipati Suramanggala. Namun, masjid ini sempat mengalami

Hasil gambar untuk masjid kauman semarang

kerusakan parah akibat kebakaran selama geger pecinan tahun 1741. Nah, bangunan yang sekarang berdiri merupakan hasil renovasi dari Adipati Suradimanggala (Kyai Terboyo). Tahun 1889-1904 dipugar arsitek Belanda bernama Gakampiyan. Jika Anda berkunjung kesana suasana tempo dulu sangat terasa di semua bagiannya.

Masjid Layur

Masjid ini tidak memiliki gaya arsitektur Arab, namun bergaya lokal. Masjid ini dibangun tahun 1802 Masehi oleh saudagar Yaman yang bermukin di Semarang.Hasil gambar untuk masjid layur semarang Keunikan dari masjid ini terletak dibagian menara. Dulu, menara ini merupakan mercusuar yang dimanfaatkan untuk mengawasi kapal-kapal yang keluar masuk di Kali Semarang. Lokasi masjid ini di Kampung Layur, dari arah Pasar Johar ke arah Kota Lama melalui Kantor Pos Besar Jalan Pemuda, Sebelum Jembatan Berok belok kiri. Masjid ini masih aktif digunakan dan sering digunakan untuk lokasi syuting film.

Masjid Baiturrahman

Hasil gambar untuk Masjid baiturrahman semarang

Pembangunan Masjid Raya Baiturahman dimulai pada 10 Agustus 1968 dengan ditandai pemasangan tiang pancang untuk pondasi masjid sebanyak 137 buah. Masjid diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 15 Desember 1974. Keberadaan masjid ini hingga sekarang menjadi kebanggaan warga Semarang, apalagi lokasinya berada di pusat kota. Bangunan masjid berbentuk limasan dan berdiri di atas lahan seluas 11.765 m2. Saat ini Masjid Raya Baiturrahman tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah dan wadah berkumpulnya umat, melainkan juga pusat dakwah Islam. Di kompleks tersebut juga berkembang pesat lembaga pendidikan TK-SD H Isriati. Ia menjadi simbol oase religisiotas di tenagh-tengah aktivitas kapitalisme di gedung-gedung mal dan perkantoran yang mengelilinginya.

Makam wali KH Shaleh Darat

Nama Kyai Haji Soleh Darat memang tidak setenar Para Ulama di Tanah Air sekaliber KH.Nawawi Albantani dan KH.Hasyim Asyari, namun dibalik kemasturan tersebut KH.Soleh Darat merupakan sosok ulama yang memilki andil besar dalam penyebaran Islam di Pantai Utara jawa Khususnnya di Semarang. Murid yang pernah berguru kepadanya adalah KH.Hasyim Asy’ari Pendiri ponpes Tebuireng dan Pendiri Jamiyyah Nahdlatul Ulama {NU) dan KH.Ahmad Dahlan Pendiri Muhammadiyyah.

Beliau Bernama Muhammad Saleh lahir lahir di Desa Kedung Jumbleng, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara pada sekitar tahun 1820 , ayah beliu bernama KH.Umar sosok ulama yang teerkenal pada masa Pengeran Diponegoro. Sejak kecil Kh.Saleh Darat mendapat tempaan ilmu dari Ayahnya yang memang seorang Ulama, setelah dirasa cukup lama belajar dengan ayahnya, KH Saleh Darat melakukan pengembaraan keberbagai tempat dalam menimba ilmu hingga akhirnya Beliau berkesempatan belajar di Mekkah, Disana beliau berguru dengan Ulama -ulama besar diantarnya Syaikh Muhammad Almarqi, Syaikh Muhammad Sulaiman Hasballah, Syaikh Sayid Muhammad Zein Dahlan, Syaikh Zahid, Syaikh Umar Assyani, Syaikh Yusuf Almisri serta Syaikh Jamal Mufti Hanafi dan Kh Saleh Darat bertemu dengan santri -santri yang berasal dari Indonesia antara lain KH Nawawi Al bantani dan KH Muhammad Kholil Al Maduri.Hasil gambar untuk makam kh shaleh darat

Nama Darat yang disandangnya merupakan sebutan masyarakat untuk menunjukan tempat dimana Kh Saleh tinggal yaitu di kampung darat yang masuk dalam wilayah kelurahan Dadap sari kecamatan Semarang Utara. Sebagaimana Kebiasaan Para ulama dahulu selalu menyebutkan Daerah Asal dibelakang namanya seperti Al Bantani ( Banten), Al Maduri ( Madura ), Al Banjari ( Banjar ) dll, begitu juga dengan Kh Saleh Darat Beliau biasa menggunakan namanya Muhammad Saleh Bin Umar Al Samarani yang bearti dari Semarang.

 

KH.Saleh daratmeninggal dunia pada tanggal 28 Ramadan 1321 H, atau bertepatan dengan tanggal 18 Desember 1903 dan di makamkan dikomplek Pemakaman Umum Bergota Semarang.

setiap tanggal 10 Syawal, masyarakat dari berbagai penjuru kota melakukan haul Kiai Saleh Darat di kompleks pemakaman umum Bergota Semarang.

Gua Kreo

Gua Kreo adalah obyek wisata yang terdapat di Kota Semarang. Gua Kreo merupakan Gua yang terbentuk oleh alam[1], bukan hasil buatan oleh manusia. Kini, 2014, Goa Kreo berada di tengah tengah waduk Jatibarang, sebuah bendungan yang membendung sungai kreo, yang selain untuk mengatasi masalah banjir juga menjadi destinasi wisata baru di Kota Semarang.
Sejarahnya Gua ini pernah digunakan Sunan Kalijaga untuk bertapa. Disini terdapat banyak Monyet ekor panjang juga terdapat tiga monyet gaib anak buah dari Sunan Kalijaga untuk menjaga hutan tersebut. Gua Kreo terdapat di Kelurahan Kandri, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang.
Goa Kreo Semarang merupakan sebuah goa yang dipercaya sebagai petilasan Sunan Kalijaga saat mencari kayu jati untuk membangun Mesjid Agung Demak . Ketika itu menurut legenda Sunan Kalijaga bertemu dengan sekawanan kera yang kemudian disuruh menjaga kayu jati tersebut. Kata “Kreo” berasal dari kata Mangreho yang berarti peliharalah atau jagalah. Kata inilah yang kemudian menjadikan goa ini disebut Goa Kreo dan sejak itu kawanan kera yang menghuni kawasan ini dianggap sebagai penunggu.

 

Kuliner

Soto bangkong, tahu gimbal, bandeng presto, mie kopyok, tahu bakso, tahu petis.

Hasil gambar untuk Soto Ayam Bangkong

Soto Ayam Bangkong

Hasil gambar untuk bandeng presto semarang

Bandeng Presto

Hasil gambar untuk tahu gimbal

Tahu Gimbal

Oleh-oleh

  • Lumpia Semarang
  • Jambu Semarang
  • Wingko Babat
  • Kue Moci
  • Ganjel Rel

Hasil gambar untuk lumpia

Lumpia

Hasil gambar untuk wingko babat

Wingko Babat

Hasil gambar untuk ganjel rel

Ganjel Rel

LEAVE A REPLY