Makam Habib Kuncung, Kalibata, Jaksel

0
384

masjid-habib-kuncung.jpg

Masjid Habib Kuncung berdiri dengan begitu kokoh di dekat pusat keramaian kawasan Kalibata, Pancoran, Jakarta Selatan. Meski begitu, suasana terasa begitu asri dengan banyaknya pohon berdiri di sekitar masjid.

Beberapa terlihat sibuk dengan aktivitas mereka di masjid diberi nama At Taubah tersebut. Ada yang membaca Alquran, ada yang berdzikir, sementara sebagian yang lain tengah sibuk membersihkan makam.

Masjid At Taubah yang terletak di Jalan Rawajati Timur II No.70 RT.03/RW.08 Kelurahan Rawajati Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan ini memang kerap dikunjungi peziarah. Ini lantaran di kompleks masjid itu terdapat makam seorang ulama terkenal, Habib Ahmad bin Alwi Al Hadad atau Habib Kuncung.

Masjid At Taubah termasuk salah satu situs sejarah di Ibukota Jakarta. Masjid ini dibangun oleh Habib Abdullah Ja’far Al Hadad, kakek buyut Habib Kuncung, sekitar abad ke-18.

Awalnya hanya terdapat dua makam. Seiring berjalannya waktu, jumlah makam semakin bertambah. Kesemua makam itu adalah keturunan dari pendiri masjid, termasuk Habib Kuncung.

Bagi masyarakat muslim Ibukota, Habib Kuncung merupakan tokoh yang memiliki derajat tertentu. Ini karena sang ulama dipercaya memiliki sejumlah kelebihan yang membedakan dengan manusia biasa.

Habib kuncung dilahirkan di Kota Ghurfah, Tarim, Hadramaut, tanggal 26 Sya’ban 1254 H. Saat tiba di Betawi, Masjid At Taubah menjadi petilasan Habib Kuncung dalam menjalankan dakwah Islam.

masjid-habib-kuncung.jpg

” Habib Kuncung itu memang pulang perginya dia biasa di masjid ini (Masjid At Taubah). Dia sering istirahat di sini. selain itu, ada juga petilasan Habib Kuncung di kali dekat Masjid, ada pancuran untuk bersih-bersih masjid,” kata pengurus Masjid At Taubah, Muhammad, Kamis, 16 Juni 2016.

Muhammad mengatakan pancuran air tersebut awalnya tidak ada. Habib Kuncung sendirilah yang membuat pancuran tersebut dengan kelebihan yang dimilikinya.

” Ketika Habib Kuncung ingin bersih-bersih kemudian dia tancapkan tongkat bambunya ke tebing sekitar kali, maka keluar pancuran air,” kata dia.

Sayangnya, kata Muhammad, pancuran tersebut sudah hilang sejak 1990. Ini lantaran terjadi banyak hal negatif di sana.

Semasa hidupnya, Habib kuncung dikenal sebagai seorang yang memiliki khoriqul a’dah, atau kemampuan di luar kebiasaan manusia umumnya. Dalam bahasa kewalian disebut ahli Darkah.

Ahli Darkah merupakan sebutan bagi orang yang muncul di saat orang lain membutuhkan. Ciri tersebut, kata Muhammad, diklaim ada pada diri Habib Kuncung.

Sebutan Kuncung bermula karena Habib Ahmad kerap memakai kopiah dari Bangsawan Bugis berbentuk kuncung atau kerucut. Kebiasaan itulah yang menjadi dasar penyebutan Kuncung pada Habib Ahmad.

” Dia dapat julukan kuncung karena pada waktu itu suka mengenakan kopiah berbentuk kuncung pemberian dari kerajaan Bugis,” ucap dia.

Habib Kuncung meninggal dunia dalam usia 93 tahun pada 1926 di daerah Kebon Coklat, Kampung Melayu, Jakarta Timur.

url.jpg

Muhammad mengatakan sempat muncul keanehan saat prosesi pemakaman Habib Kucung. Rencananya, jenazah Habib akan dimakamkan di komplek pemakaman keluarga Habib Toha bin Ja’far Al Hadad.

Setelah sholat jenazah dijalankan di Masjid At Taubah, jenazah akan dikebumikan di liang lahat yang sudah digali. Ada sekitar 20 orang yang bersiap untuk meletakkan jenazah Habib Kuncung di liang tersebut.

Tiba-tiba, 20 orang tersebut tidak mampu mengangkat jenazah Habib Kuncung. Melihat hal ini, Habib Toha yang merupakan orang terdekat Habib Kuncung meminta petunjuk kepada Allah SWT dengan mendirikan sholat istikharah.

Dari istikharah tersebut, Habib Toha mendapat petunjuk Habib Kuncung pernah meninggalkan wasiat. Berbekal wasiat itu, Habib Toha kemudian memakamkan Habib Kuncung di komplek pemakaman keluarga Habib Abdullah bin Ja’far Al Haddad yang letaknya tidak jauh dari Masjid At Taubah.

” Sebelumnya memang Habib Kuncung sempat berpesan ingin dibuatkan rumah kecil di daerah dekat Masjid At Taubah,” ujar Muhammad.

Sumber: dream.co.id

 

LEAVE A REPLY