Ayah Ini Tetap dukung Anaknya Jadi Santri Meski Beda Agama

0
236

Ayah Ini Tetap dukung Anaknya Jadi Santri Meski Beda Agama
Tidak ada anak yang bisa memilih dari keluarga mana ia akan dilahirkan. Ada yang akhirnya lahir dari keluarga kaya, ada yang lahir dan dibesarkan dari keluarga yang miskin, ada pula yang besar di keluarga yang punya lebih dari satu agama.

Meski perbedaan agama kerap dituduh sebagai biang masalah atau konflik, namun kisah ini keharmonisan dan kasih sayang keluarga ini nampaknya mampu menjawab tuduhan tersebut.

Keharmonisan keluarga beda agama

Menjalani kehidupan beda agama dalam satu keluarga tentu bukan hal yang mudah. Ada banyak lika-liku kehidupan yang harus dihadapi. Kehidupan tentang keluarga beda agama .Diceritakan oleh Abdul Wahab, salah seorang pemuda yang saat ini sedang menjalani pengabdian di Papua. sebagai salah seorang pengajar agama yang juga aktifis NU .

Abdul Wahab menceritakan di tempat tinggalnya saat ini. Ada sebuah potret keharmonisan yang luar biasa, antara orangtua dan anak yang berbeda agama dan keyakinan.

Anak kecil tersebut ialah Rudi, seorang bocah kecil yang memilih untuk memeluk agama Islam, padahal ayah Rudi merupakan umat beragama Kristen. Kendati berbeda keyakinan, ayah Rudi tak mempermasalahkannya, ia tetap menyayangi anaknya sebagaimana mestinya seorang ayah menyayangi anaknya.

“Meski beda agama keharmonisan anak dan orangtua di Papua ini tidak sedikitpun menimbulkan sebuah masalah dalam kehidupan sehari,” ujar Wahab menceritakan kisah tersebut di akun sosial medianya, seperti dikutip darinakun Facebook milik Abdul Wahab.

Tak hanya diperbolehkan memeluk agama yang berlainan dengan ayahnya, bahkan Rudi juga diizinkan oleh ayahnya untuk menimba ilmu agama Islam di Pondok Pesantren Al Payage, salah satu pondok pesantren di tanah Papua.

Tentu saja potret seperti ini jelas menohok orang-orang yang selalu menyebar fitnah dan perpecahan atas nama agama. Kisah ini sekaligus menunjukkan betapa perbedaan suatu agama tidak menjadi sebuah sekat dalam keluarga.

“Rudi yang setiap hari mengaji, mendengar petuah gurunya Saiful Islam di pondok dan ia juga mengerti betul pentingnya akhlak terhadap orangtua meski berbeda Agama,”imbuh Wahab yang menjadi salah seorang pengajar di pondok Payage tersebut.

Dari kisah ini, seharusnya manusia belajar bahwa sudah sepatutnya seseorang menjunjung tinggi rasa kemanusiaan dan persaudaraan yang lebih mendalam dan lebih mendasar dibandingkan kepentingan apapun. Sebab rasa kemanusiaan harusnya tidak dibatasi oleh baju luar dan sekat-sekat primordial seperti agama, suku, ras, bahasa, jenis kelamin, dan sebagainya.

Penyatuan perbedaan dalam keluarga, bahasa dan suku adalah hal yang lumrah di nusantara ini. Bahkan tak jarang perbedaan agama dalam sebuah keluarga menjadi satu fenomena menarik yang patut diacungi jempol, khususnya untuk keberhasilan membangun rumah tangga dan keluarga besar dari perbedaan itu tadi.
Dalam tukisan di akun facebooknya ,Abdul Wahab juga menambahkan sebuah kisah. Dimana dahulu ketika Kanjeng Rasulullah SAW mengakhiri salat subuh berjamaah dengan salam, lalu melakukan zikir bersama-sama dan selesai berdoa, Sahabat Umar bin Khaththab memberanikan diri untuk bertanya kepada Rasulullah.

“Wahai Rasulullah, mengapa hari ini salat Subuhmu tidak seperti biasanya?”

“Kenapa? Apa yang berbeda?” Tanya Nabi.

“Sangat lain, ya Rasulullah.
Biasanya engkau ruku dalam rakaat yang kedua tidak sepanjang pagi ini. Tapi engkau ruku lama sekali. Mengapa?”

“Aku juga tidak tahu. Cuma tadi, pada saat aku sedang ruku dalam rakaat yang kedua, Malaikat Jibril turun lalu menekan punggungku sehingga aku tidak dapat bangun I’tidal.”

Umar semakin heran.

“Mengapa Jibril berbuat seperti itu, ya Rasul?”

Nabi menggeleng ramah seraya berkata, “Aku juga belum tahu, karena Malaikat JIbril belum menceritakannya kepadaku.”

Dengan perkenan Allah SWT, beberapa waktu kemudian, Malaikat Jibril, berkata kepada Nabi SAW:

“Muhammad. Aku tadi diperintahkan Allah SWT untuk menekan punggungmu dalam rakaat yang kedua. Sengaja agar Ali mendapat kesempatan salat berjamaah denganmu, karena Allah sangat suka kepadanya bahwa ia telah menjalani ajaran agama-Nya secara bertanggung jawab, yaitu dengan menghormati seorang kakek tua beragama Yahudi. Dari penghormatannya itu sampai terpaksa dia berjalan pelan sekali. Jika punggungmu tidak kutekan tadi, pasti Ali akan terlambat dan tidak memperoleh peluang untuk menunaikan salat Subuh berjamaah bersama denganmu.”

Kenapa dengan Sahabat Ali?

Inilah kisahnya:

Pada hari itu Sahabat Ali bin Abi Thalib bergegas bangun untuk dapat mengerjakan salat Subuh berjamaah seperti biasanya di masjid bersama Rasulullah SAW.

Langit masih amat gelap ketika Sahabat Ali keluar dari rumahnya dan berjalan tergesa-gesa menuju ke masjid.

Sahabat Bilal sudah memanggil-manggil dengan suara azannya yang berkumandang merdu ke segenap penjuru dan sudut-sudut kota Madinah.

Namun ketika Sahabat Ali bin Abi Thalib berada di jalan menuju tempat jamaah yang jaraknya masih cukup jauh, ternyata di depannya ada seorang kakek tua beragama Yahudi yang melangkah pelan sekali karena usianya yang telah lanjut (uzur).

Kakek itu berjalan tertatih-tatih.
Sahabar Ali sebenarnya sudah berusaha agar tidak ketinggalan mengerjakan salat tahiyatul masjid dan qab liyah Subuh sebelum bersama Rasulullah SAW dan para sahabat lainnya melaksanakan jamaah.

Tapi, lantaran Nabi mengajarkan supaya setiap umat Islam menghormati orang tua, siapa pun orang tua itu dan apa pun agamanya, maka Sahabat Ali terpaksa berjalan di belakang kakek itu.
Karena si kakek berjaan amat lambat, Sahabat Ali pun melangkah sangat pelan. Kakek itu lemah sekali, dan Ali tidak sampai hati untuk mendahuluinya, takut kalau-kalau kakek Yahudi tersebut kena celaka atau terjatuh.

Akibatnya, ketika mendekati masjid langit sudah hampir kuning.
Kakek itu melanjutkan perjalanannya, melewati masjid dan tidak masuk ke dalamnya, sebab tempat ibadah agama Yahudi bukan di masjid. Sahabat Ali menyangka salat Subuh pasti sudah usai. Namun ia tetap cepat-cepat masuk ke dalam masjid.
Alangkah herannya Sahanat Ali. Tahu-tahu Nabi dan para sahabat masih ruku pada rakaat yang kedua, berarti Sahabat Ali punya kesempatan untuk menunaikan salat berjamaah.

Sebab, jika masih bisa menjalankan ruku bersama, berarti masih kebagian satu rakaat. (Kitab Mawa’idhul Ushfuriyyah, Hadist Ketiga)

Itulah sejatinya ajaran sebuah agama. Menghormati sesama meski berbeda Agama.

Saya jadi teringat nasehat Gus Mus dalam acara Mata Najwa

“Tetaplah jadi manusia, mengertilah manusia, dan manusiakanlah manusia” KH.Mustofa Bisri .

Foto Cahaya Dakwah Dari Timur.
Foto Cahaya Dakwah Dari Timur.
Foto Cahaya Dakwah Dari Timur.
Foto Cahaya Dakwah Dari Timur.
+12
SukaTunjukkan lebih banyak tanggapan

Komentari

8 Komentar
Komentar
Cahaya Dakwah Dari Timur
Tulis komentar…
Heri Hermawan
Heri Hermawan Jngan memaksakn keyakinan sseorang.
Mdh”n saja orang tuanya di berikan taufik & hidayah.

Ternate Compumedia
Ternate Compumedia Kisah yg inspiratif banget…imam itu pilihan, toleransi akan ada jika saling menghargai keyakinan org lain keyakinan ttg apapun yg didasarkan pd aturan2 agama yg dianutnya. Ktika slh satu mencoba mencampuri maka toleransi bs tdk bermakna apa2..Semu.

Maria Fransisca
Maria Fransisca Saya 1 dari 9 bersaudara, Keluarga besar saya muslim taat, saya satu2 nya yg beragama Katholik, tdk ada seorangpun yg mempengaruhi shg sy menjadi umat Katholik, bagi sy iman kpd Tuhan adalah panggilan, walaupun agama km berbeda, Puji Tuhan sy tetap dicintai oleh keluarga besar sy, saling menghargai dan toleransi adalah dasar keharmonisan dari satu hubungan keluarga.. Amin.

1 balasan
Jajat Soedrajat
Jajat Soedrajat Ttp semangat kang abdu..👍👍👍
Suka · Balas · Kirim Pesan · 2 · 7 Mei pukul 19:46

Asbath Jawal Ghorbi
Asbath Jawal Ghorbi semoga jadi anak yang berguna…
Suka · Balas · Kirim Pesan · 7 Mei pukul 15:49

Maulana M Lbrahim
Maulana M Lbrahim sebuah ke indonesia an yg absolut n pancasila is .

Agus Prayogo
Agus Prayogo subhanallah
Suka · Balas · Kirim Pesan · 7 Mei pukul 18:56

Tim Sarkub
Suka · Balas · Kirim Pesan · 7 Mei pukul 22:29

LEAVE A REPLY